Siaran Pers BPS Provinsi Lampung - Rabu, 5 November 2025 - Berita dan Siaran Pers - Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung

Laporkan! Jika terjadi hal-hal yang kurang berkenan atau petugas meminta imbalan/tip. Kami ingin memberikan pelayanan terbaik.

Saat ini Publikasi Provinsi Lampung Dalam Angka 2026 sudah tersedia dan dapat diakses disini.

Anda mencari data? konsultasi statistik? Tidak perlu repot langsung Chat saja TALITA (TAnya onLIne tentang daTA). Klik TALITA sekarang.

Beranda

Produk - Berita dan Siaran Pers

Siaran Pers BPS Provinsi Lampung - Rabu, 5 November 2025

Siaran Pers BPS Provinsi Lampung - Rabu, 5 November 2025

Siaran Pers BPS Provinsi Lampung - Rabu, 5 November 2025

5 November 2025 | Kegiatan Statistik Lainnya



SIARAN PERS

BPS PROVINSI LAMPUNG

Nomor : B-1625/18000/HM.240/2025



Ekonomi Lampung Triwulan III-2025 Tumbuh 5,04%, Tiga Tertinggi di Sumatera

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat bahwa perekonomian Provinsi Lampung pada triwulan III-2025, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (year-on-year/y-on-y), tumbuh sebesar 5,04 persen. Angka ini sedikit melambat dibandingkan capaian triwulan II-2025 yang tumbuh 5,09 persen. Capaian ini diumumkan oleh Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, dalam siaran langsung Berita Resmi Statistik yang digelar pada Rabu, (5/11).

Ahmadriswan menyampaikan, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Lampung Triwulan III-2025 atas dasar harga berlaku (ADHB) mencapai Rp135,56 triliun, sementara atas dasar harga konstan (ADHK) mencapai Rp76,58 triliun.

Jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya (quarter-to-quarter/q-to-q), ekonomi Lampung tercatat tumbuh positif sebesar 0,69 persen. Secara kumulatif, perekonomian Provinsi Lampung sampai dengan Triwulan III-2025 tumbuh sebesar 5,19 persen (cumulative-to-cumulative/c-to-c), atau menguat dibanding periode yang sama tahun 2024 (c-to-c) yang saat itu tumbuh sebesar 4,33 persen.

Dari sisi Produksi, Pertumbuhan ekonomi 5,04 persen (y-on-y) didorong oleh kinerja positif dari sebagian besar lapangan usaha. Lapangan usaha yang mencatatkan pertumbuhan tertinggi adalah Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan sebesar 7,74 persen, diikuti oleh Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum sebesar 7,35 persen, dan Konstruksi sebesar 6,96 persen.

Kendati demikian, tiga lapangan usaha tercatat mengalami kontraksi pertumbuhan yaitu Pengadaan Listrik dan Gas sebesar 6,85 persen, Pertambangan dan Penggalian sebesar 1,71 persen, serta Pengadaan Air sebesar 0,13 persen.

Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, menjelaskan bahwa secara struktur, perekonomian Lampung didominasi oleh tiga sektor.

"Perekonomian Lampung pada triwulan III-2025 masih didominasi oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan peranan sebesar 28,38 persen. Diikuti oleh Industri Pengolahan sebesar 19,44 persen dan Perdagangan Besar-Eceran sebesar 13,91 persen," jelas Ahmadriswan.

Secara triwulan ke triwulan (q-to-q), pertumbuhan 0,69 persen didorong oleh lapangan usaha Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial yang yang mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,15 persen, diikuti oleh Industri Pengolahan yang tumbuh sebesar 5,10 persen. Sementara itu. masih terdapat beberapa lapangan usaha yang mengalami kontraksi, dengan Transportasi dan Pergudangan mengalami kontraksi terdalam sebesar 5,50 persen.

Secara kumulatif (c-to-c), pertumbuhan didorong oleh Industri Pengolahan yang tumbuh sebesar 7,71 persen; diikuti Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum (7,57 persen); serta Jasa Lainnya (7,30 persen). Kinerja positif juga tercatat pada Transportasi dan Pergudangan (6,77 persen) dan Perdagangan Besar-Eceran dan Reparasi Kendaraan Mobil-Sepeda Motor (5,90 persen). Namun, beberapa lapangan usaha masih mengalami kontraksi, yakni Pengadaan Listrik dan Gas (1,88 persen) dan Pertambangan dan Penggalian (0,73 persen).

Kemudian dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi 5,04 persen (y-on-y) didorong oleh pertumbuhan positif pada seluruh komponen. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) mencatat pertumbuhan tertinggi sebesar 6,05 persen, diikuti Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang Melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) sebesar 5,59 persen, dan Ekspor Barang dan Jasa sebesar 5,33 persen. Komponen Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) yang memiliki porsi terbesar (60,49 persen) tumbuh sebesar 4,94 persen.

Secara triwulan ke triwulan (q-to-q), pertumbuhan 0,69 persen didukung oleh Ekspor Barang dan Jasa (6,04 persen), PMTB (2,16 persen), dan Pengeluaran Konsumsi Pemerintah (1,06 persen). Sementara itu, komponen Konsumsi Rumah Tangga (PK-RT) mengalami kontraksi sebesar 1,52 persen. Secara kumulatif (c-to-c), seluruh komponen pengeluaran juga tumbuh positif, dengan Ekspor Barang dan Jasa mencatatkan pertumbuhan tertinggi sebesar 8,33 persen.

Secara spasial, perekonomian Provinsi Lampung memberikan kontribusi sebesar 10,13 persen terhadap total PDRB Pulau Sumatera. Kinerja pertumbuhan ekonomi Lampung yang mencapai 5,04 persen (y-on-y) menempatkan Lampung sebagai provinsi dengan pertumbuhan tertinggi ketiga di Pulau Sumatera, setelah Provinsi Kepulauan Riau (7,48 persen) dan Provinsi Sumatera Selatan (5,20 persen). Sementara itu, pertumbuhan ekonomi regional Sumatera secara keseluruhan tercatat sebesar 4,90 persen.

"Perekonomian Provinsi Lampung pada Triwulan III-2025 masih menunjukkan kinerja yang solid, tumbuh di angka 5,04 persen, bahkan menjadi yang tertinggi ketiga di Pulau Sumatera. Sumber Pertumbuhan terbesar dari sisi produksi didorong oleh Lapangan Usaha Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan. Sementara dari sisi pengeluaran, dorongan yang kuat berasal dari komponen Ekspor Barang dan Jasa," tutup Ahmadriswan Nasution.




Optimisme Pangan Lampung: Produksi Padi 2025 Berpotensi Meningkat 14,65 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung mencatat tren positif pada sektor tanaman pangan. Berdasarkan hasil Kerangka Sampel Area (KSA) amatan bulan September 2025, total produksi padi di Provinsi Lampung pada tahun 2025 berpotensi mencapai 3,20 juta ton Gabah Kering Giling (GKG), mengalami peningkatan signifikan sebesar 408,88 ribu ton atau 14,65 persen dibandingkan realisasi tahun 2024 yang tercatat sebesar 2,79 juta ton GKG.

Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, menyampaikan capaian ini dalam siaran pers, Rabu (5/11). Beliau menjelaskan bahwa peningkatan produksi padi ini sejalan dengan naiknya perkiraan luas panen.

Secara keseluruhan, total luas panen padi di Provinsi Lampung pada tahun 2025 berpotensi mencapai 597,48 ribu hektar. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 65,76 ribu hektar atau 12,37 persen dibandingkan luas panen tahun 2024 yang tercatat seluas 531,72 ribu hektar.

Secara periodik, pergerakan luas panen padi tahun 2025 menunjukkan dinamika sebagai berikut: Subround I (Januari–April 2025): Luas panen mengalami peningkatan tajam sebesar 90,67 ribu hektar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Subround II (Mei–Agustus 2025): Terjadi penurunan luas panen sebesar 28,58 ribu hektar. Subround III (September–Desember 2025): Provinsi Lampung berpotensi mengalami peningkatan luas panen sebesar 3,67 ribu hektar dibandingkan tahun 2024.

Peningkatan produksi padi terbesar juga terjadi pada awal tahun. Produksi padi pada Subround I (Januari–April 2025) mencatat peningkatan sebesar 509,51 ribu ton GKG dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, pada Subround II (Mei–Agustus 2025) tercatat penurunan produksi sebesar 99,41 ribu ton GKG. Untuk perkiraan di Subround III (September–Desember 2025), produksi padi berpotensi mengalami penurunan tipis sebesar 1,22 ribu ton GKG dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2024.

Apabila dikonversikan menjadi beras untuk konsumsi masyarakat, total produksi beras di Provinsi Lampung pada tahun 2025 berpotensi mencapai 1,84 juta ton, naik sebesar 235,05 ribu ton atau 14,65 persen dari 1,60 juta ton pada tahun 2024.

Ahmadriswan Nasution turut menjelaskan bahwa perhitungan produksi padi ini merupakan hasil integrasi dua sistem pengumpulan data, yakni data luas panen dari Survei Kerangka Sampel Area (KSA) Padi dan data produktivitas yang diperoleh melalui Survei Ubinan Padi.

Selain itu, BPS telah mengadaptasi pemutakhiran data Kerangka Sampel Area (KSA) Padi tahun 2025 dengan menggunakan Lahan Baku Sawah (LBS) tahun 2024. LBS 2024, yang bersumber dari Keputusan Menteri ATR/Kepala BPN Nomor 446.1/SK-PG.03.03/V/2024, mencatat luas lahan baku sawah di Provinsi Lampung sebesar 337.284 hektar.

Angka ini mengalami penurunan seluas 24.415 hektar (sekitar 6,75%) dibandingkan dengan LBS tahun 2019, yang tercatat seluas 361.699 hektar.

Perlu dicatat bahwa angka total luas panen dan produksi padi tahun 2025 masih merupakan angka sementara. Angka ini mencakup potensi luas panen dan produksi untuk periode Oktober hingga Desember 2025 yang diperoleh berdasarkan hasil KSA Padi amatan bulan September 2025. Khusus untuk perhitungan produksi padi dan beras pada periode September hingga Desember 2025, angka tersebut menggunakan rata-rata produktivitas Subround III tahun 2023–2024.



Tingkat Pengangguran Terbuka Lampung Naik Tipis Menjadi 4,21% di Agustus 2025, Penyerapan Tenaga Kerja Tembus 65,79 Ribu Orang

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung hari ini merilis data Keadaan Ketenagakerjaan Provinsi Lampung periode Agustus 2025. Data menunjukkan adanya peningkatan pada jumlah penduduk bekerja dan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) secara tahunan.

Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution dalam siaran pers di Bandar Lampung, pada Rabu (5/11), menyampaikan bahwa TPT Provinsi Lampung pada Agustus 2025 tercatat sebesar 4,21 persen. Angka ini sedikit lebih tinggi dibandingkan posisi Agustus 2024 yang sebesar 4,19 persen, meskipun masih menunjukkan tren yang sedikit fluktuatif selama periode tiga tahun terakhir.

Secara keseluruhan, jumlah Penduduk Usia Kerja di Provinsi Lampung pada Agustus 2025 mencapai 7.192,54 ribu orang. Dari jumlah tersebut, 5.066,55 ribu orang merupakan Angkatan Kerja (AK), sementara 2.125,99 ribu orang termasuk Bukan Angkatan Kerja (BAK), seperti sekolah, mengurus rumahtangga, dan lainnya.

“Jumlah penduduk yang Bekerja mencapai 4.853,38 ribu orang. Sepanjang periode Agustus 2024 hingga Agustus 2025, terjadi penyerapan tenaga kerja yang signifikan, mencapai 65,79 ribu orang,” terang Ahmadriswan.

Namun, peningkatan lapangan kerja diiringi dengan bertambahnya jumlah Penganggur. Jumlah penduduk Pengangguran pada Agustus 2025 adalah 213,17 ribu orang, naik sebesar 4,01 ribu orang dibandingkan Agustus 2024. Tren jumlah pengangguran sendiri mengalami peningkatan dari 207,24 ribu orang pada Agustus 2023, menjadi 209,16 ribu orang pada Agustus 2024, dan kembali meningkat menjadi 213,17 ribu orang pada Agustus 2025.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) secara total mengalami peningkatan dari Agustus 2023 hingga Agustus 2025. TPAK laki-laki tercatat lebih tinggi dibandingkan TPAK perempuan. Dalam setahun terakhir (Agustus 2024–Agustus 2025), terjadi peningkatan TPAK pada laki-laki, sementara TPAK pada perempuan mengalami penurunan.

Dari sisi kualitas pekerjaan, mayoritas penduduk yang bekerja merupakan Pekerja Penuh (bekerja minimal 35 jam seminggu) sebanyak 2.833,98 ribu orang. Sayangnya, proporsi pekerja penuh menunjukkan tren penurunan dari Agustus 2023 ke Agustus 2025, bahkan menurun sekitar 62,72 ribu orang dibandingkan tahun sebelumnya.

Sebaliknya, Tingkat Setengah Pengangguran (bekerja kurang dari 35 jam seminggu dan masih mencari atau bersedia menerima pekerjaan tambahan) mengalami peningkatan dari Agustus 2023 hingga Agustus 2025. Jumlah setengah penganggur tercatat sebesar 548,05 ribu orang. Sementara itu, Pekerja Paruh Waktu tercatat sebanyak 1.471,35 ribu orang, dengan tingkat yang cenderung stabil.

Pada Agustus 2025, kelompok status pekerjaan terbesar didominasi oleh Buruh/Karyawan/Pegawai dan Berusaha Sendiri. Selama setahun terakhir, terjadi peningkatan jumlah pekerja pada kategori Buruh/Karyawan/Pegawai, sedangkan Pekerja Keluarga/Tidak Dibayar dan Berusaha Sendiri mengalami penurunan.

Perkembangan ini sejalan dengan tren peningkatan proporsi pekerja formal dan penurunan proporsi pekerja informal. Peningkatan pekerja formal utamanya didorong oleh bertambahnya jumlah Buruh/Karyawan/Pegawai.

Dilihat dari lapangan usaha, distribusi penduduk bekerja masih didominasi sektor Pertanian, Perdagangan, dan Industri Pengolahan. Sektor Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan menjadi penyumbang terbesar dalam penyerapan tenaga kerja dengan peningkatan sebesar 55,97 ribu orang. Diikuti oleh sektor Industri Pengolahan sebesar 29,42 ribu orang, dan Jasa Pendidikan dengan penyerapan 21,24 ribu orang.

Mayoritas penduduk yang bekerja memiliki tingkat pendidikan di bawah SMA, dengan proporsi lulusan SD ke bawah menjadi yang paling dominan. Meskipun masih minoritas, proporsi penduduk yang bekerja dengan pendidikan tinggi (Diploma IV, S1, S2, S3) terus meningkat dari tahun ke tahun.

Analisis data menunjukkan adanya korelasi antara tingkat pendidikan dan tingkat pengangguran. Pada Agustus 2025, tingkat pengangguran terendah justru terdapat pada lulusan SD ke bawah sebesar 2,16 persen.

Sebaliknya, tingkat pengangguran tertinggi masih diduduki oleh jenjang pendidikan SMK dengan TPT mencapai 7,16 persen. Meskipun demikian, perkembangan tren TPT lulusan SMK menunjukkan penurunan dari tahun 2024 hingga 2025.





IPM Lampung 2025 Capai 73,98 dan Tumbuh 1,16 Persen

Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Lampung merilis Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Provinsi Lampung tahun 2025 yang tercatat mencapai 73,98. Angka ini naik sebesar 0,85 poin dibandingkan capaian tahun 2024 yang sebesar 73,13, atau secara persentase meningkat sebesar 1,16 persen.

Dengan capaian di atas 70, status pembangunan manusia di Provinsi Lampung secara konsisten berada pada kategori "Tinggi" sejak tahun 2020.

"Capaian IPM 73,98 ini menunjukkan bahwa upaya pembangunan manusia di Lampung terus bergerak ke arah yang positif. IPM Lampung secara konsisten berada di kategori 'Tinggi' sejak tahun 2020, mencerminkan peningkatan kualitas hidup yang berkesinambungan," ujar Kepala BPS Provinsi Lampung, Ahmadriswan Nasution, dalam siaran pers, Rabu (15/11).

Kenaikan IPM Lampung tahun 2025 yang mencapai 1,16 persen mencerminkan akselerasi positif dalam peningkatan kualitas hidup. Tingkat pertumbuhan ini tercatat lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan tahunan selama periode 2020–2024 yang sebesar 0,73 persen.

Ahmadriswan Nasution menekankan pentingnya angka pertumbuhan ini, "Yang patut kita garisbawahi adalah pertumbuhan IPM tahun 2025 yang mencapai 1,16 persen. Angka pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan rata-rata tahunan lima tahun terakhir, yang menunjukkan akselerasi pembangunan manusia di Provinsi Lampung."

Peningkatan IPM 2025 didorong oleh pertumbuhan positif di seluruh dimensi pembentuknya, meliputi dimensi umur panjang & hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak.

Pencapaian IPM 73,98 pada tahun 2025 ditopang oleh peningkatan pada komponen pembentuk yang dirinci, sebagai berikut:

  1. Dimensi Umur Panjang & Hidup Sehat diukur melalui Umur Harapan Hidup (UHH) saat lahir, mencapai 74,71 tahun. UHH naik 0,32 tahun (tumbuh 0,43%), yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan UHH periode 2020–2024 (0,25% per tahun).
  2. Dimensi Pengetahuan diukur oleh Harapan Lama Sekolah (HLS) dan Rata-Rata Lama Sekolah (RLS).
  3. HLS mencapai 12,79 tahun, naik 0,01 tahun (tumbuh 0,08%).
  4. RLS mencapai 8,61 tahun, mengalami peningkatan sebesar 0,25 tahun (tumbuh 2,99%), yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata pertumbuhan 2020–2024 (0,95% per tahun).
  5. Dimensi Standar Hidup Layak diukur melalui Pengeluaran Riil Per Kapita Per Tahun yang Disesuaikan, mencapai Rp11.683.000 per kapita per tahun. Komponen ini mengalami peningkatan sebesar Rp425.000 (tumbuh 3,78%).

"Peningkatan paling substansial terlihat pada komponen Rata-Rata Lama Sekolah yang tumbuh 2,99 persen dan Pengeluaran Riil Per Kapita Per Tahun yang Disesuaikan tumbuh 3,78 persen. Ini membuktikan bahwa dimensi pengetahuan dan standar hidup layak masyarakat semakin membaik dan menjadi pendorong utama kenaikan IPM Lampung kali ini," tambah Ahmadriswan.

Secara spasial, dari 15 kabupaten/kota di Provinsi Lampung, tidak terjadi perubahan status pembangunan manusia (IPM) pada tahun 2025. Sebagian besar daerah, yakni 12 kabupaten, berhasil mempertahankan status IPM Tinggi. Bahkan, 2 kota berstatus Sangat Tinggi. Sementara itu, 1 kabupaten masih berada pada status Sedang.

  1. Capaian IPM Tertinggi di Provinsi Lampung dipegang oleh Kota Bandar Lampung dengan angka IPM 81,26 (kategori Sangat Tinggi).
  2. Capaian IPM Terendah tercatat pada Kabupaten Mesuji dengan IPM 69,40 (kategori Sedang).

Berikutnya kondisi pertumbuhan IPM menurut Kabupaten/Kota tahun 2025. Pada tahun 2025, pertumbuhan IPM tertinggi dicapai oleh Kabupaten Lampung Selatan dengan angka 1,32%, sedangkan pertumbuhan terendah tercatat di Kabupaten Tulang Bawang Barat sebesar 0,81%.

Pencapaian IPM 73,98 dengan pertumbuhan 1,16 persen menunjukkan keberhasilan program pembangunan manusia di Lampung dalam menjaga momentum peningkatan kualitas hidup masyarakat, bahkan melebihi rata-rata pertumbuhan dalam lima tahun terakhir. Peningkatan yang merata pada seluruh dimensi pembentuk IPM, terutama indikator RLS dan Pengeluaran Riil per Kapita per Tahun yang Disesuaikan, menjadi modal penting bagi pembangunan daerah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.



Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi:

Muhammad Sabiel Adi Prakasa

BADAN PUSAT STATISTIK PROVINSI LAMPUNG

Jl. Basuki Rahmat No. 54 Bandar Lampung, 35215, Telp: (0721) 482909

Homepage: http://www.lampung.bps.go.id

E-mail: [email protected]

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik

Badan Pusat Statistik Provinsi Lampung

(BPS-Statistics Lampung Province)

Jl. Basuki Rahmat No 54 Bandar Lampung

Telp (0721) 482909

Email : [email protected]

logo_footer

Government Public Relation

Sumber dari Kementerian Komunikasi dan Digital

Hak Cipta © 2023 Badan Pusat Statistik